Masjid Jami Nurul Jannah Bekasi

Masjid Jami Nurul Jannah Bekasi

Masjid Jami Nurul Jannah

Masjid Jami Nurul Jannah terletak di Kampung Pamahan RT/RW 13/06, Ds. Jatireja, Kec. Cikarang Timur, Kab. Bekasi, Provinsi Jawa Barat. Bangunan Masjid Jami’ Nurul Jannah terletak di antara rumah penduduk yang berada di gang kecil. Jika kita lihat bangunan masjid berwarna merah muda ini terlihat sangat kokoh dan anggun, apalagi dilengkapi dengan kubah atap beton berukuran sangat besar.

Untuk jalur ke Kampung Pamahan anda dapat mencapainya dari pertigaan Bapelkes Lemah Abang, kemudian lewat Jalan Simpang menuju arah Kali malang. Kemudian masuk ke dalam gang kecil, karena bangunannya tidak terlihat dari jalan raya, dan justru tertutup dengan beberapa ruko di pinggir jalan. Namun, untuk kubahnya yang berukuran besar tersebut kita dapat melihatnya secara samar-samar dari jalan raya. Karena sebuah kubah sudah terlihat, tentu saja para pelancong akan langsung menyadari bahwa bangunan tersebut merupakan bangunan sebuah masjid.

Jika kita sudah memasuki sebuah gang kecil di Jalan Simpang ke Arah Kali Malang tersebut, kita akan menemukan sebuah papan plakat yang dipasang di pinggir jalan gang tersebut, dan menjadi satu-satunya penunjuk arah kepada bangunan Masjid jami’ Nurul Jannah. Bangunannnya memang tergolong kokoh dari luar, karena serangkaian pilar beton terlihat menopang struktur atapnya.

Masjid Jami Nurul Jannah

Menurut salah satu pengurus masjid disana, pembangunan Masjid Jami’ Nurul Jannah secara keseluruhan didanai oleh sokongan dana swadaya masyarakat dan beberapa pihak lain yang terkait. Maklum jika kemampuan masyarakat akan sangat sulit untuk membangun sebuah masjid yang lumayan kokoh dan notabene membutuhkan dana yang cukup besar. Apalagi kemegahan yang diberikan masjid ini juga terbilang berharga cukup mahal.

Setelah kita membahas berbagai masjid yang ada di perkampungan, ternyata negeri ini memang sangat unik, karena Masjid merupakan sebuah bangunan yang dibangun bersama, dan milik bersama. Sebenarnya, persatuan masyarakat menjadi lebih terlihat dari pembangunan suatu bangunan masjid.

Arsitektur Bangunan Masjid Jami’ Nurul Jannah

Jika dilihat secara sekilas tentu kita akan merasa lucu, bagaimana tidak sebuah bangunan masjid di balut dengan warna merah muda di keseluruhan bangunannya. Namun, ternyata implementasi warna tersebut justru memberikan kesan tersendiri dari sebuah masjid, karena tidak jarang masjid-masjid megah diluar negeri juga mengadopsi warna merah muda sebagai basisnya.

Kubah ini tidak memiliki satu menara pun, namun memiliki 1 kubah besar dengan struktur beton, di balut dengan warna hijau. Pada bagian puncak kubah tersebut diletakkan ornamen bulan sabit dengan lafadz “Allah” di tengah-tengahnya.

Kemudian dari luar sudah terlihat dengan sangat jelas bahwa masjid ini memiliki puluhan tiang penyangga dari beton yang sangat kokoh. Kemudian, pada bagian jendela masjidnya buat dengan bentuk persegi panjang, dua diantaranya diberi teralis dibagian dalam, sedangkan dua yang lainnya dibiarkan polos.

Arsitektur Masjid Jami Nurul Jannah

Untuk bagian atas jendela-jendela tersebut diberikan beberapa ventilasi udara berbentuk prisma, sebagai tambahan jalan masuknya udara sehingga suasana menjadi lebih sejuk. Masuk kedalam masjid, kita akan menemukan 4 soko guru berwarna kuning yang dibangun tepat dibawah kubahnya. Uniknya, pilar tersebut berukuran sangat tinggi, karena memang atap dari masjid ini bisa dibilang lumayan tinggi untuk sebuah atap masjid.

Pada bagian mihrab kita dapat melihat berbagai macam kaligrafi indah dibagian atasnya. Kemudian yang unik adalah atap di mihrab tersebut dihiasi dengan lukisan langit dan awan disekelilingnya. Sebuah mimbar berbentuk podium kecil juga turut diletakkan di mihrab tersebut.

Masjid Jami Nurul Iman Cikarang Timur

Masjid Jami Nurul Iman Cikarang Timur

Masjid Jami Nurul Iman

Masjid Jami’ Nurul Iman terletak di Jalan Tegal Danas Simpangan, Kp. Rukem, Ds. Jatireja, Kec. Cikarang Timur, Kab. Bekasi, Provinsi Jawa Barat. Bangunan masjidnya berdiri kokoh di ruas antara Tegal Danas dan Simpangan yang membujur dari arah pertigaan BAPELKES Lemahabang hingga kawasan Kali Malang di Tegal Danas. Lokasinya berada di sisi kanan jalan raya jika kita bergerak dari Gedung BAPELKES. Jadi, tidak terlalu sulit untuk menemukan masjid ini dengan pedoman dari BAPELKES.

Bangunan Masjid Jami’ Nurul Iman Kampung Rukem ini memang masih tergolong baru, karena baru selesai dan mulai digunakan pada tahun 2011 lalu. Dan merupakan kebahagiaan tersendiri bagi masyarakat muslim di Kampung Rukem karena memiliki tempat beribadah yang baru dan terlihat sangat adem dan nyaman untuk digunakan, meskipun tidak terlalu megah seperti masjid-masjid modern pada umumnya. Namun, bukan kemegahanlah yang terpenting, namun kenyamanan, kebersihan dan penggunaan secara penuh fungsi masjid ini lah yang menjadi faktor terpenting.

Sebelum dilakukan pembangunan total, Masjid Jami’ Nurul Iman Kampung Rukem ini pada awalnya merupakan sebuah bangunan masjid dari kayu yang cukup sederhana, lokasinya sama namun lebih mepet ke jalan kampung tersebut. Teratak dari bangunan masjid lawas masih terlihat dihalaman masjid yang sekarang.

Masjid Jami Nurul Iman

Arsitektur Masjid Jami’ Nurul Iman

Bangunan Masjid Jami’ Nurul Iman Kampung Rukem ini dibangun dengan Arsitektur khas indonesia meskipun di bangun pada abad ke-20. Hal ini juga bertujuan untuk menghargai masjid yang dibongkar, agar budaya pembangunan sebelumnya tidak ditinggalkan begitu saja. Atap yang menjadi ciri khas masjid bernuansa tradisional tersebut dibangun dengan atap masjid limas bersusun dua, lengkap dengan mustaka yang terbuat dari alumuium dibagian puncak atapnya. Kemudian pada ujung mustaka tersebut juga turut dilengkapi dengan ornamen lafadz “Allah”.

Bangunan masjidnya dibuat dengan denah persegi empat, dan dibuat tanpa tiang penyangga (Soko Guru). Hal ini dimaksudkan agar ruang bangunan masjid tersebut terasa cukup lapang didalamnya. Tentu saja ruangan utama tempat sholat juga dibuat dengan sederhana dengan balutan warna putih, namun terlihat sangat bersih.

Pada bagian lantainya pun juga dilapisi dengan keramik berwarna putih bersih. Sedangkan pada 3 shaff paling depan dilapisi dengan karpet sajadah yang juga sangat terjaga kebersihannya.

Pada bagian mihrab dibuat dengan dua pilar yang ditempelkan ke tembok, kemudian dengan atap piramida. Pada bagian atas mihrab dilukis dengan sangat apik hiasan kaligrafi dua kalimat syahadat, dan dua lafadz “Allah” dan “Muhammad” dibagian kiri dan kanannya.

Interior Masjid Jami Nurul Iman

Dari sebuah plakat yang dipasang di tembok didepan masjid, dapat diketahui bahwa masjid ini dibangun oleh para donatur dari negara Timur Tengah. Meskipun bantuan berasal dari Timur Tengah, namun pihak mereka tidak mengharuskan bangunan masjid tersebut harus bergaya Timur Tengah-an dan membebaskan seni Arsitektur yang dipakai. Hingga kini, salah satu benda yang masih asli dari bangunan lamanya adalah papan plakat yang diletakkan tepat dipinggir jalan, bertuliskan “Masjid Nurul Iman”.

Karena mendapatkan pendanaan secara keseluruhan dari pihak Timur Tengah, tentu saja fasilitas yang dimiliki oleh masjid ini cukup lengkap, diantaranya adalah tempat wudhu dan juga toilet. Untuk penunjang pasokan air yang tersedia, dipasang juga bak penampungan air yang cukup besar, sehingga ketersediaan air menjadi lebih terjamin.

Keseluruhan bangunannya dibuat dari bahan baru, termasuk bagian atap dan bagian kayu-kayunya, sehingga terlihat masih Gress dan Fresh.

Masjid Jami Al Hussiniyah Cikarang Selatan

Masjid Jami Al Hussiniyah Cikarang Selatan

Masjid Jami Al Hussiniyah

Masjid Jami’ Al-Hussiniyah berlokasi di Kampung Kandang Roda, Ds. Serang, Kec. Cikarang Selatan, Kab. Bekasi, Provinsi Jawa Barat. Entah kenapa kampung tempat berdirinya masjid ini di berikan nama Kandang Roda, mungkin saja dari masa lalu kampung ini.

Meskipun letak Masjid Jami’ Al-Hussiniyah ini didalam gang, namun akses ke areal ini sudah cukup mudah dijangkau. Jika kita bergerak dari SPU disamping pasar sentral, hanya beberapa meter dari arah tersebutlah gang masuk ke area Kampung Kandang Roda dapat kita temukan. Setelah itu, masuk sekitar 20 meter dan kita akan sampai pada bangunan Masjid Jami’ Al-Hussiniyah yang lumayan megah ini.

Bangunan Masjid Jami’ Al-Hussiniyah ini masih tergolong baru, karena baru diresmikan pada tanggal 24 Februari 2010 lalu, oleh Ir. H. Entah Ismanto SH. MM., Camat Cikarang Selatan. Letaknya memang berada di dalam gang, namun bukan berarti masjid ini tersembunyi dan tertutup oleh beberapa rumah penduduk sekitar.

Masjid Jami Al Hussiniyah

Bangunan Masjid Agung Al-Hussiniyah ini dibangun dengan balutan warna hijau dan terlihat menyembul diantara hunian penuduk sekitar.

Bila kita berhenti untuk mengisi BBM ataupun beristirahat di SBPU pasar sentral Lippo Cikarang, bangunan masjid ini akan terlihat dengan sangat jelas. Masjid ini tidak memiliki satupun menara yang terpisah seperti kebanyakan masjid-masjid lainnya, namun ada 4 menara kecil yang dibangun tepat di empat pojok atap masjidnya.

Jika dilihat dari kejauhan, arsitektur Masjid Raya Al-Hussiniyah ini akan terasa seperti masjid di Timur Tengah. Apalagi 4 menara kecil yang terletak di bagian atapnya semakin menunjukkan adopsi dari Timur Tengah, dan juga sebuah kubah besar berwarna keemasan dibagian atapanya semakin menegaskan arsitektural bangunan masjid ini.

Penambahan bentuk bangunan yang masif, dengan beberapa jendela yang dilengkapi kanopi kecil, dan beberapa mozaik di jendela masjid yang sangat indah dengan warna warni unik di kacanya, serta lafadz “Allah” yang juga buat secara sangat indah.

Arsitektur Bangunan Masjid Jami Al Hussiniyah

Bangunan Masjid Jami’ Al-Hussiniyah ini memiliki dua lantai. Untuk akses ke lantai dua diberikan dua tangga di bagian sisi utara dan selatan didalam ruangan masjidnya. Lantai pertama biasa digunakan sehari-hari, sedangkan lantai dua digunakan pada saat hari jum’at, maupun pada saat perayaan hari-hari besar islam dilakukan.

Dibagian dalam kubah masjid dilukis langit biru dengan burung camar yang sedang terbang, serta beberapa awan putih diseklilingnya. Lukisan tersebut tentu saja jarang sekali dilihat di bangunan sebuah kubah.

Didalam ruang utama kita dapat menemukan 4 soko guru yang terbuat dari beton. Dan sejajar dengan tiang tersebut di lantai dua juga dipasang tiang sejenis untuk menyangga struktur atapnya. Tiang soko guru dari beton tersebut dilapisi dengan batu alam, sehingga penampilannya menjadi begitu indah.

Arsitektur Masjid Jami Al Hussiniyah

Ruangannya dibuat dengan sangat luas, dengan hiasan batu alam disetiap dindingnya. Sehingga kesan alami menjadi tersirat di dalam masjid ini. Pada bagian dinding sebelah utara, selatan dan timur, dipasangkan beberapa jendela dengan kaca patri disekelilingnya. Warna yang diberikan pada kaca-kaca tersebut memang cukup menarik, warna merah, hijau, biru dipadukan dengan sangat apik.

Struktur bangunan kubah utamanya dibuat dengan sangat besar, berwarna keemasan dengan puncak dihiasi ornamen bulan sabit beserta tulisan lafadz “Allah” dibagian dalamnya. Sedangkan untuk 4 menara kecil dibagian sudut masjid juga dihiasi dengan kubah kecil namun dibalut warna hijau, dengan ornamen bulan sabit dibagian puncaknya. Pada bagian sekeliling leher menara tersebut diberikan kaca hias kecil yang juga berhiaskan tulisan lafadz “Allah”.

Masjid Jami Nurul Islam Cikarang Utara

Masjid Jami Nurul Islam Cikarang Utara

Masjid Jami Nurul Islam

Cikarang utara merupakan salah satu kecamatan yang berada di Kota Cikarang selain kecamatan Cikarang Pusat, Cikarang Barat, Cikarang Selatan dan Cikarang Timur. Meskipun Cikarang terkenal sebagai kota industri yang begitu luas, Cikarang juga memiliki berbagai bangunan masjid yang sangat terkenal disamping bangunan industri yang berjejer disana. Berada di Jalan Ki Hajar Dewantara yang berlokasi di kawasan Pilar, Cikarang Utara adalah sebuah wilayah yang terkenal sebagai kawasan pendidikan. Masjid tersebut bernama Masjid Jami Nurul Islam.

Disana sangat banyak berbagai institusi pendidikan negeri dan juga swasta dimulai dari Tingkat Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, SMP, Madrasah Aliyah dan juga SMA. Maka tak heran ketika pada pagi hari ketika waktu para karyawan dan siswa berangkat sekolah, di kawasan tersebut sangat padat dan ramai. Dan juga ketika waktu setelah dhuhur dan menjelang petang adalah waktu yang begitu padat dipenuhi oleh berbagai macam kendaraan dan juga para siswa dan karyawan pulang sekolah serta pulang kerja. Bahkan wilayah tersebut merupakan salah satu titik kemacetan lalu lintas pada saat jam-jam sibuk.

Masjid Jami Nurul Islam

Sedangkan lokasi dari masjid Nurul Islam berada tak jauh dari pertigaan jalan Pilar dan hanya beberapa meter dari ruas jalan raya Jalur Utara Jawa yang menghubungkan langsung dengan ruas Cikarang ke Karawang yang juga merupakan salah satu jalur yang begitu padat dan macet. Disana lah tak jauh berdiri sebuah bangunan masjid Nurul Islam di sebelah sisi kiri jalan yang menuju Sukatani.

Bangunan masjid ini nyaris tidak memiliki pekarangan, dan hanya tersisa kurang dari 2 meter saja lahan yang ada di depan masjid, jadi lahan parkir untuk masjid ini tidak memadai dan biasanya jama’ah akan memarkirkan kendaraannya di pinggir jalan raya.

Arsitektur Bangunan Masjid Nurul Islam

Pada awalnya, bangunan Masjid Nurul Islam ini merupakan bangunan khas Arsitektur Indonesia, yaitu dengan atap joglo (limasan). Namun, Soko Guru yang dimiliki oleh masjid ini hanyalah satu dan ditempatkan di bagian tengah ruangannya. Namun, karena beberapa renovasi yang terjadi, masjid ini akhirnya memiliki sebuah kubah yang berukuran cukup besar dan bentuk asli bangunan tersebut kiri hanya bisa dilihat dari sisi utara saja. Sedangkan jika dilihat dari sisi selatannya sudah terhalang oleh beberapa bangunan yang lebih tinggi.

Kubah yang diletakkan di bagian puncak atap joglo tersebut berbahan alumunium dan memiliki sebuah ornamen bulan bintang dibagian puncaknya. Dibagian depan masjid terlihat bahwa ada bangunan teras dengan fasad yang dibuat krawangan, lengkap dengan beberapa pilar besar yang terhubung dengan pola-pola geometris. Hal ini tentu saja menambah keindahan bangunan masjid dari luar.

Eksterior Masjid Jami Nurul Islam

Bagian Fasad seperti ini mengingatkan kita pada bentuk fasad yang ada pada bangunan Masjid Agung Bandung sebelum di renovasi hingga semegah sekarang ini. Ciri bangunan yang serupa juga masih dapat kita temukan di Masjid Jami’ Al-Muttaqin, Buni Asih yang hampir persis dengan bangunan di masjid ini. Fungsi Fasad tersebut adalah untuk memperindah bentuk bangunan utama dan juga agar kebisingan yang terjadi bisa lebih diredam lagi.

Jika dilihat dari kejauhan, akan terlihat sebuah kubah kecil menyembul dibagian atas fasad. Mungkin dulunya bangunan tersebut merupakan menara kecil yang kemudian saat ini sudah tertutup oleh bangunan fasad.

Papan nama berukuran kecil dipasang di tembok sisi kenan masjid. Sedangkan untuk papan nama yang lebih besar di pasang di tembok sisi utara masjid. Sedangkan tempat wudhunya ditempatkan di bagian sisi utara juga yang terhubung langsung dengan ruang utama untuk sholat.

Masjid Umar Bin Khattab Bogor Jawa Barat

Masjid Umar Bin Khattab Bogor Jawa Barat

Masjid Umar Bin Khattab

Kota Bogor terkenal akan suasana yang begitu sejuk dengan keindahan alamnya yang begitu luar biasa. Di kota tersebut juga banyak memiliki tempat wisata yang biasanya menjadi pilihan utama wisatawan dari berbagai daerah. Bahkan dari luar Provinsi Jawa Barat pun sengaja memilih Bogor sebagai tempat wisatanya. Hal tersebut dikarenakan memang kota Bogor memiliki suasana yang sejuk dan adem ditambah lokasinya berada di dataran tinggi. Terlebih disana juga terdapat berbagai menu makanan kuliner yang menggugah selera nafsu makan. Kota Bogor juga memiliki berbagai bangunan yang terkenal dan istimewa. Termasuk bangunan untuk melaksanakan ibadah muslim yaitu masjid. Salah satu bangunan masjid yang menjadi kebanggaan warga Bogor khususnya masyarakat Jonggol adalah masjid Umar Bin Khattab.

Lokasi masjid Umar Bin Khattab berada di Jalan Raya Jonggol, Cileungsi No. 26, Sukamana Jonggol, Bogor Jawa Barat. Letak bangunan masjid ini cukup strategis karena dekat dengan SPBU Pertamina dan jiuga beberapa mini market. Dan berada di pertigaan Jonggol dari Cibarusah. Berada di pinggir jalan membuat siapapun yang ingin beristirahat dan singgah untuk melaksanakan ibadah shalat disana memudahkan bagi pengendara ke masjid tersebut. Maka tak heran masjid tersebut juga selalu dipenuhi oleh para jamaah yang sengaja ingin melaksanakan ibadah shalat.

Masjid Ummar Bin Khattab

Dijelaskan dalam sebuah prasasti pembangunan masjid yang berada di tembok dekat pintu masuk sebelah sisi utara masjid bahwa masjid ini didirikan dengan bantuan dana yang berasal dari Salim Oneid Al Zahmi. Beliau adalah seorang muslim dari Fuujairah Uni Emirat Arab. Beliau memiliki wali amanatnya yang dipercayakan kepada Moddy Komaruddinndan Ir. Malik Muhammad Basyarahil. Setelah proses pembangunan masjid tersebut, akhirnya masjid tersebut selesai dibangun pada tanggal 7 Jumadil Tsani 1431 Hijriyah yang bertepatan dengan tanggal 21 Mei 2010 lalu.

Arsitektur Bangunan Masjid Umar Bin Khattab

Dilihat dari segi bangunan masjid Umar Bin Khattab, masjid tersebut sebenarnya memiliki desain khas Indonesia. Padahal dana dari pembangunan masjid tersebut berasal dari muslim Uni Emirat Arab. Dan biasanya bangunan masjid khas dari sana sangat besar, megah dan mewah beserta kubah yang ukurannya besar juga berada di atap masjid. Ditambah dengan menara masjid yang biasanya menjulang begitu tinggi menjadikan ciri khas bangunan dari Timur Tengah. Namun masjid ini memiliki menara segi empat yang cukup tinggi sehingga semakin melengkapi bagian bangunan masjid tersebut. Dan pada bagian puncak menara tersebut terdapat pengeras suara yang biasanya digunakan oleh muadzin untuk mengumandangkan adzan menyeru para jamaah untuk melaksanakan ibadah shalat.

Menara masjid Umar Bin Khattab dibangun menempel dengan bangunan utama masjid tersebut tepatnya disebelah sudut barat laut. Warnanya pun sangat berbeda dengan bangunan menara lainnya yaitu memilih warna abu-abu. Lalu pada bagian atas menara tersebut juga di hias dengan kepingan keramik yang warna nya gelap. Serta ditambah dengan berbagai ornamen yang bentuknya bulat berjumlah tiga. Ke tiga ornamen tersebut melambangkan Iman, Islam dan Ikhsan.

Interior Masjid Ummar Bin Khattab

Pada bagian atap masjidnya sangat khas dengan bangunan masjid Nusantara pada umumnya. Yaitu berbentuk joglo atau limas bersusun yang merupakan ciri khas dari masjid tradisional Nusantara. Pada ruang utama masjid tersebut juga ditambah dengan empat tiang soko guru yang digunakan untuk menopang struktur atap tersebut. Hingga sekarang pun masjid Umar Bin Khattab selalu dipenuhi oleh para jamaah.

Masjid besar Al Hidayah Cikarang Barat

Masjid besar Al Hidayah Cikarang Barat

Masjid Besar Al Hidayah

Masjid Besar Al-Hidayah, sesuai namanya memang bangunannya lumayan besar, dengan dua lantai, dan bisa dibilang cukup megah di keseluruhan bangunannya. Bangunan masjidnya terletak di ruas jalan Imam Bonjol, Kampung Cibitung Kaum, Ds. Telaga Asih, Kec. Cikarang Barat, Kab. Bekasi, Provinsi Jawa Barat. Ruas jalan tersebut adalah ruas jalan raya yang menghubungkan antara Cibitung dan Cikarang.

Masjid Besar Al-Hidayah ini seringkali digunakan sebagai tempat untuk penyelenggaraan pengajian untuk Kecamatan Cikarang Barat. Bebeberapa Da’I Kondang Indonesia tentu saja pernah memberikan ceramahnya di masjid ini, salah satunya adalah Ustadz Arifin Ilham.

Pembangunan Masjid Al-Hidayah ini semakin terus berlanjut dan berkembang, agar menjadi sebuah masjid yang sangat megah. Seperti kebanyakan bangunan masjid yang terletak di sisi timur pinggir ruas jalan, tentu saja masjid ini memiliki mihrab yang menghadap ke jalan raya. Sedangkan untuk pintu utama ditaruh disisi timur, dengan halaman yang bisa dibilang cukup luas.

Bngunan induk masjid ini dibangun dengan struktur beton berlantaikan dua dengan void di bagian depannya. Pada bagian lantai atas biasanya hanya dipakai untuk menampung jamaah sholat jum’at dan juga pada sholat 2 hari raya, serta beberapa peringatan hari besar islam lainnya yang membutuhkan ruang yang luas.

Masjid Besar Al Hidayah

Beberapa kegiatan tabligh akbar juga turut dilakukan rutin, dengan narasumber Ustadz-Ustadz kondang seperti Ustadz Ahmad Al-Habsy.

Arsitektur Bangunan Masjid Besar Al-Hidayah

Masjid Besar Al-Hidayah dibangun dengan Arsitektur modern dengan implementasi bangunan masjid universal. Bangunannya memiliki kubah besar, dengan sebuah menara yang menjulang tinggi. Kubahnya diwarnai hijau tua seperti kubah di Masjid Nabawi Madinah. Sedangkan untuk menara besarnya terlihat menjulang tinggi dari atap bangunan sekitarnya.

Kubahnya dibuat dari beton dengan ornamen bulan sabit pada puncaknya. Sedangkan menaranya dibuat lumayan unik, karena bagian tengah lebih besar daripada bagian dasarnya. Kemudian memanjang tinggi dengan puncak lancip dengan ornamen bulan sabit juga.

Pada bagian sisi selatan bangunan induknya dibangun sebuah bangunan tambahan yang hampir sama luasnya dengan bangunan utamanya. Bangunan tambahan tersebut juga didirikan dengan lantai dua, dengan maksud untuk tambahan ruang untuk jamaah yang tidak tertampung lagi. Menurut pengalaman yang pernah dilalui, jamaah akan penuh sesak hingga meluber ke jalanan pada waktu perayaan Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha dilaksanakan. Sehingga, dibutuhkan bangunan sekunder lain yang dapat menampung lebih banyak jamaah lagi, agar proses perayaan hari besar menjadi lebih khidmat dan tidak khawatir dengan panas maupun hujan.

Tempat Wudhu untuk masjid ini disediakan di sebelah bangunan tambahan tersebut. Tempat wudhu untuk jamaah laki-laki buat memanjang di koridor. Beberapa kran air dipasang langsung disebuah bak penampungan air dari batu bata dan semen. Sedangkan untuk tempat wudhu jamaah wanita diletakkan dibagian terpisah.

Arsitektur Masjid Besar Al Hidayah

Untuk tempat sholat wanita di hari-hari biasa disediakan sebuah ruangan terpisah, sehingga kenyamanan dan kekhusuk’an sholat lebih terjamin. Di ruangan jamaah wanita diletakkan satu almari dengan persediaan mukena bersih yang dapat digunakan untuk para musafir yang singgah dan ingin melakukan sholat namun lupa tidak membawa mukena.

Lantai dari keseluruhan bangunannya dilapisi dengan keramik berwarna putih bersih. Juga seluruh ruangan hampir dipenuhi dengan warna putih bersih saja, kecuali pada bagian plafon yang dilapisi dengan warn abiru laut.

Sebanyak 6 tiang penyangga dipasang diruang sholat utama, ditambah dengan beberapa tiang penyangga sekunder di sekelilingnya.

Masjid Jami Darussalam Cikarang Timur

Masjid Jami Darussalam Cikarang Timur

Masjid Jami Darussalam

Masjid Jami’ Darussalam bertempat di Kampung Rawa Gebang, Ds. Tanjung Baru, Kec. Cikarang Timur, Kab. Bekasi, Provinsi Jawa Barat. Bangunan Masjid Jami’ Darusalam ini terletak di komplek Yayasan Perguruan Islam Darussalam (YAPISDA), yaitu sebuah yayasan yang berdiri di Kampung Rawa Gebang, yang membawahi beberapa lembaga pendidikan mulai dari Taman Kanak-Kanak, Madrasah Ibtidaiyah (SD), Madrasah Tsanawiyah (MTs/SMP), Madrasah Aliyah (MA / SMA), Pondok Pesantren (PonPes) dan juga Majelis Ta’lim. Keseluruhan lembaga pendirikan tersebut terletak di komplek yang sama kecuali untuk bangunan Pondok Pesantrennya. Kita dapat menemukan Gedung Kantor Yayasan di tengah-tengah areal yang dikelilingi oleh beberapa gedung pendidikan, tepatnya sebuah gedung yang menghadap ke halaman masjid.

Masjid ini terletak di sisi timur jalan raya sehingga untuk bangunannya tentu saja kiblatnya menghadap ke jalan raya. Jadi, pintu utama untuk masjid ini diletakkan di bagian timur. Sedangkan untuk bagian pekarangan masjid diletakkan di sisi utara, yang juga merupakan pekarangan untuk gedung disampingnya. Sedangkan disisi bagian selatan terdapat sedikti lahan kecil sebuah kolam ikan.

Masjid Jami Darussalam

Tentu saja karena terletak di dalam komplek berbagai lembaga pendidikan, pengunjung Masjid Jami’ Darussalam ini tidak pernah sepi, terutama pada saat siang hari. Pada pagi hari saja anak-anak diajarkan untuk sholat dhuha, kemudian pada siang hari sholat dzuhur berjamaah dengan para guru dan pengasuh, sehingga masjid ini tidak pernah sepi oleh orang yang melakukan ibadah.

Arsitektur Bangunan Masjid Jami’ Darussalam

Masjid Jami’ Darussalam ini memang sengaja dibangun dengan Arsitektur khas Indonesia, dengan atap limas yang bersusun tiga yang menunjukkan pedoman hidup umat muslim yang harus senantiasa di pegang yaitu “Islam, Iman dan Ihsan”. Struktur atap tumpang tiga tersebut ditopang oleh 4 soko guru yang terletak di dalam.

Diantara struktur atap dan juga struktur atap tumpangnya dibuat beberapa jendela kecil untuk ventilasi udara dan cahaya dibagian ruangannya. Ventilasi tersebut juga terlihat di bagian tembok sebelah atas. Yang unik dari masjid ini adalah tidak menggunakan mimbar seperti pada umumnya yang terbuat dari kayu dengna ukiran yang sangat indah, namun Masjid Jami’ Darussalam ini memiliki mimbar permanen yang terbuat dari beton.

Jika dilihat dari kejuhan akan terlihat sebuah Arsitektur masjid yang tinggi dengan atap tumpangnya yang sangat jelas. Pada puncak atap tersebut diletakkan sebuah kubah dari alumunium dengan puncak bulan bintang.

Pada bagian sekeliling timur dan selatan di topang oleh beberapa pilar dengan dua lengkungan yang unik diantara pilar tersebut. Kemudian pada bagian sisi-sisi temboknya diberikan beberapa jendela dengan warna gelap, namun bisa dibuka kecil untuk sirkulasi udara. Tempat wudhunya diletakkan di bagian utara masjid dengan bangunan yang menyatu namun dipisahkan antara jamaah pria dan wanita.

Lantainya dilapisi dengan keramik putih dan hampir keseluruhan bangunannya juga dilapisi dengan warna putih, temasuk bagian plafonnya. Untuk penyejuk ruangan dipasang beberapa kipas angin kecil di beberapa sudutnya.

Interior Masjid Jami Darussalam

Ruang utama pada masjid ini memang tergolong sangat sederhana tanpa ornamen kaligrafi yang memenuhi ruangannya. Ornamen kaligrafi hanya terlihat di bagian mihrabnya saja, sedangkan pada sudut lainnya tidak memiliki ornamen apapun.

Meskipun dibuat dengan sangat sederhana, namun kebersiahan didalam dan diluar ruangannya sangat terjaga. Hal ini dikarenakan masjid ini selalu disambangi oleh berbagai kalangan mulai dari anak-anak, santri, dan masyarakat sekitar yang saling menyadari pentingnya sebuah ruangan masjid yang bersih untuk menunjang kualitas ibadah.

Masjid Jami Nurul Hidayah Cikarang

Masjid Jami Nurul Hidayah Cikarang

Masjid Jami Nurul Hidayah

Cikarang adalah sebuah kota yang terkenal sebagai kota Industri di Provinsi Jawa Barat selain kota Karawang yang memiliki kawasan industri terluas dan terpadat. Cikarang juga tak lepas dari berbagai bangunan masjid yang indah dan juga megah. Salah satunya yang akan kita bahas adalah Masjid Jami’ Nurul Hidayah yang merupakan Masjid Liga Muslim Di Cikarang Utara.

Masjid Liga Muslim

Kenapa disebut dengan Masjid Liga Muslim?, tentu saja ada hubungan erat dengan Liga Muslim Dunia (World Muslim League / Rabithah’Alam Islami). Sesuai dengan plakat dan prasasti di Masjid Jami’ Nurul Hidayah, disebutkan bahwa pembangunan masjid ini didanai penuh oleh Liga Muslim Sedunia. Yaitu sebuah organisasi nirlaba yang berpusat di Saudi Arabia yang berfokus pada pemberian bantuan dana pembangunan fasilitas tempat ibadah untuk umat muslim di dunia, terutama yang berada di daerah terpencil dan juga didaerah dengan mayoritas agama non-muslim.

Berdasarkan Plakat dan Prasasti, bangunan masjid ini memiliki nama “Masjid Al-Amir Saud Bin Kholid Al-Saud”. Memang agak sulit penyebutannya mengingat bangunan tersebut dibangun didaerah Cikarang Utara, Jawa Barat, Indonesia. Untuk mempersingkat sebutan dan mempermudahkan pengucapannya, akhirnya diberikan nama yang lebih simpel yaitu “Masjid Nurul Hidayah”, atau juga bisa disebut dengan “Masjid Liga Muslim”.

Masjid Jami Nurul Hidayah

Arsitektur Bangunan Masjid Jami’ Nurul Hidayah

Jika dilihat dari seni bina bangunan yang dipakai oleh bangunan masjid yang dibiayai oleh Organisasi Saudi Arabia, tentu saja Arsitektur bangunan yang melekat dibangunan masjid ini adalah budaya Timur Tengah modern, atau juga bisa disebut dengan Arsitektur Universal, karena Timur Tengah menjadi kiblat utama bagi seni Arsitektur bangunan sebuah masjid.

Bangunannya dilengkapi dengan sebuah kubah dibagian tengah-tengah atap cornya, kemudian satu menara juga turut dibangun disamping kubah tersebut, namun dibangun dengan tidak terlalu tinggi. Kubahnya dibangun dengan struktur beton, dibalut warna hijau muda, dengan satu mustaka yang terbuat dari alumunium, dengan ornamen puncak lafadz “Allah”.

Bagian menaranya pun juga dibalut dengan dominasi warna hijau tua, namun juga dipadukan dengan warna putih dibeberapa bagiannya. Menaranya dibuat memiliki 2 ruang yang cukup untuk beberapa orang, kemudian pada jendela ruangan tersebut diberikan kaligrafi tepat dibagian tengah-tengahnya. Pada puncak menara pun diberikan atap kecil, dan juga sebuah kubah dan mustaka dengan ukuran yang lebih kecil. Pada leher kubah dibuat dengan beberapa rongga sebagai sirkulasi cahaya matahari.

Karena terletak di timur jalan raya, tentu saja bagian mihrab masjid ini menghadap ke jalan raya, sedangkan pintu masuknya ditempatkan di sebelah timur dan juga beberapa di sebelah utara dan selatan. Tempat berwudhunya ditaruh di bagian selatan masjid. Kemudian, pada bagian timur masjid terdapat beberapa makam tua yang disinyalir merupakan pendiri bangunan asli masjid ini.

Menara Masjid Jami Nurul Hidayah

Pintu-pintu pada masjid ini menggunakan pintu geser dengan kaca berwarna gelap, dan rangka berupa alumunium. Kemudian setiap jendela yang ada di masjid ini juga memiliki kaca yang berwarna gelap, dilengkapi dengan beberapa ventilasi udara dibagian atasnya. Jendela yang diimplementasikan di masjid ini tidak dirancang sebagai jendela buka tutup, yaitu jendela permanen, sehingga ventilasi udara dipisahkan dibagian atasnya.

Menara masjid yang dibangun di Masjid Jami’ Nurul Hidayah ini sangat khas dengan bangunan menara Arab Saudi. Dibangun menyatu dengan bangunan masjidnya, diletakkan di pojok sisi barat laut. Dominasi keseluruhan warna di masjid ini adalah warna-warna yang disukai oleh Rasulullah SAW, yaitu warna putih dan warna hijau tua.

Masjid Al Muawanah Cikarang

Masjid Al Muawanah Cikarang

Masjid Al Muawanah

Masjid Al Muawanah berlokasi di Kampung Rawa Banteng RT/RW 01/04, Ds. Sertajaya, Kec. Cikarang Timur, Kab. Bekasi, Provinsi Jawa Barat. Kampung Kampung Rawa Banteng terletak di sebelah kawasan Pengembangan Baru Jababeka, Cikarang. Permukaan tanah kawasan ini lebih tinggi dari kawasan sekitar, sehingga seringkali tanah bukit digali ataupun diratakan untuk kemudian ditaruh di permukaanlahan Jababeka lainnya yang notabene lebih rendah dan rawan banjir. Bangunan Masjdi Al-Muawanah berdiri di salah satu sudut yang tanahnya lebih tinggi daripada yang lain, sehingga jika mampir ke masjid ini kita akan disuguhkan dengan pemandangan indah wilayah sekitar, ditambah dengan angin sepoi-sepoi yang segar karena lokasinya lebih tinggi.

Sejarah Pembangunan Masjid Al Muawanah Cikarang

Jika dilihat dari kejauhan, bangunan masjid ini dengan menara kubah kecil terlihat sangat anggun diantara banyak pohon hijau disekitar wilayah Rawa Banteng. Sehingga suasana peribadatan di dalam Masjid tersebut menjadi sangat segar, dingin, dan sejuk, tentunya jamaah yang hadir seperti enggan untuk pulang ke rumah, terutama pendatang yang rumahnya berada di kawasan hiruk pikuk keramaian dan polusi udara.

Masjid Al Muawanah Cikarang

Jika dilihat dari plakat pembangunan yang dipasang di bagian sisi luar masjidnya, dikatakan bahwa pembangunan masjid ini dilakukan pada tahun 2009, dengan pendanaan penuh dari Organisasi Bulan Sabit Merah Qatar, yaitu sebuah organisasi internasional yang berpusat di negara Qatar yang berfokus untuk memberikan fasilitas tempat peribadatan untuk para umat muslim di daerah terpencil maupun muslim di negara non-muslim.

Pada kawasan Kampung Rawa Banteng ini juga dibangun sebuah Pondok Pesantren (PonPes) untuk Yatim Piatu yang diberi nama “Pondok Pesantren Yatim Al-Muawanah”.

Pondok Pesantren Al-Muawanah ini dibina langsung oleh Ustadz Mustofa, yang saat ini sudah menaungi lebih dari 50 orang santri yang berasal dari kalangan Yatim dan Dhuafa. Tentu saja hal seperti ini harus diacungi jempol, mengingat dikawasan kota-kota besar masih banyak sekali anak yatim piatu maupun dhuafa yang justru harus mengemis dan meminta-minta untuk dapat menyambung hidup mereka. Sehingga, seharusnya Pondok Pesantren khusus untuk anak yatim, piatu, maupun dhuafa seharusnya menjadi peran dan poin penting bagi pemerintah perkotaan, dan bukan hanya berfokus pada kemegahan infrastruktur kotanya saja.

Untuk akses menuju masjid ini saat ini sudah lumayan mudah, karena pembangunan prasarana jalan sudah selesai dilakukan, terutama di kawasan Jababeka.

Arsitektur Bangunan Masjid

Jika dilihat dari kejauhan, berbagai pohon rindang masih menutupi kawasan berdirinya masjid ini, sehingga udara yang diberikan sangatlah segar. Arsitektur masjid ini semi modern dan memang cukup sederhana, karena memang terletak di sebuah perkampungan.

Bangunan masjid ini tidak memiliki menara, namun bagian leher kubah yang lumayan panjang justru seperti sebuah menara kecil, dengan beberapa jendela sirkulasi cahaya matahari di sekelilingnya. Atapnya dibuat berbentuk limas, kemudian dibawah atap tersebut ada bangunan atap beton cor dengan beberapa ventilasi udara di sekitar jarak antara atap beton dan atap limas.

Arsitektur Masjid Al Muawanah Cikarang

Tempat Wudhunya di bangun di sisi kanan dan kiri masjid terpisah antara jamaah pria dan wanita. pada sekeliling bangunannya sudah diberikan pagar teralis besi,diatas pagar dari susunan batu bata. Akses jalan masuk diberikan 3 anak tangga kecil, kemudian dibagian depan masjid diberikan sebuah taman dengan ukuran sangat mini, untuk menambah keindahan masjid tersebut.

Bagian depan terlihat ada 1 pintu masuk utama, dan 2 jendela kaca persegi panjang di kanan dan kiri pintu utama sebagai sirkulasi tambahan untuk bangunan masjid tersebut.

Masjid Jami As Salam Cikarang Selatan

Masjid Jami As Salam Cikarang Selatan

Masjid Jami As Salam

Masjid Jami’ As-Salam berada di Jalan Raya Serang Cibarusah – Cikarang, Ds. Serang, Kec. Cikarang Selatan, Kab. Bekasi, Provinsi Jawa Barat. Tepatnya dekat dengan Pasar Serang – Cikarang, sehingga pada saat waktu sholat tiba (siang hari / sholat dzuhur) biasanya para pelaku pasar selalu berbondong ke masjid ini untuk melakukan sholat jamaah terlebih dahulu, baru kemudian melanjutkan kegiatan perdagangan mereka.

Selain itu, disamping bangunan Masjid Jami’ As-Salam juga didirikan sebuah pendopo terbuka yang dapat dipakai sebagai tempat untuk duduk santai beristirahat bagi para pelancong yang lewat menuju Cikarang maupun Cibarusah.

Lokasinya hanya beberapa meter dari Pasar Serang, sebelum sampai pada POM Bensin Pasar Serang, berbelok ke arah Kantor Pemerintah Daerah Kabupaten Bekasi.

Masjid Jami As Salam Cikarang

Arsitektur Bangunan Masjid Jami’ As-Salam

Jika dilihat secara keseluruhan, ukuran bangunan Masjid Jami’ As-Salam ini memang tidak terlalu besar, namun ada sebuah bangunan tambahan di belakang masjid sehingga tampak menjadi lebih luas. Karena bangunan masjid ini terletak di sebelah timur jalan raya Cibarusah Cikarang, tentu saja bangunannya akan membelakangi sisi jalan raya, dan mihrabnya langsung menghadap ke jalan raya. Akses untuk masuk ke bangunan utama masjid ini dapat dilakukan dari sisi Utara, Selatan, dan Timur bagian masjidnya.

Bangunan Masjid Jami’ As-Salam mengadopsi bangunan tradisional khas Nusantara Indonesia, dengan bangunan atap bersusun tiga seperti kebanyakan masjid tradisional yang berada di Indonesia. Rangkaian Struktur atapnya dibuat dengan sangat kokoh sehingga tidak memerlukan penyangga Soko Guru seperti kebanyakan masjid tradisional lainnya. Dengan begitu, suasana ruang sholat utama menjadi lebih lega dan luas tanpa tiang penopang dibagian tengah.

Bangunan Mihrabnya dibuat cukup unik,cukup tinggi dan memiliki atap cor yang diatasnya memiliki sebuah kubah bawang berukuran mini. Bangunan utama untuk masjid ini memang lumayan sempit, karena hadirnya bangunan terbuka tanpa pintu (Pelataran dengan atap permanen) di sisi kiri, kanan, dan belakang masjid, menjadikan ukuran masjid ini sangat luas, cukup untuk menampung hingga 1.000 jamaah sekaligus. Bangunan tambahan tersebut terbuka tanpa dinding dan tanpa pintu, hanya terlihat ruangan yang luas dengan beberapa tiang penyangga atapnya.

Areal tambahan paling luas terletak di sisi belakang masjid ini, yang biasanya penuh sesak pada saat jamaah membludak di hari Jum’at. Uniknya lagi, bangunan di belakang masjid tersebut dibangun dengan lantai 2 yang difungsikan sebagai madrasah. Tempat wudhu dan toilet dibuat berdempetan dengan areal tambahan di sisi belakang masjid. Di sisi belakang lagi, masih terdapat lapangan yang cukup luas yang belum terpakai dan biasanya juga difungsikan sebagai tempat sholat jika datang sholat hari raya.

Interior Masjid Jami As Salam Cikarang

Bangunan utama masjidnya memang sudah berusia cukup tua, sedangkan untuk bangunan tambahan yang dibangun di sekelilingnya merupakan bangunan yang masih baru. Lalu dibagian selatan dan barat masjid juga terdapat komplek pemakaman tua yang disinyalir salah satunya merupakan pendiri dari masjid ini.

Lantai pada masjid ini lapisi dengan keramik putih bercorak hitam dengan keramik hitam sebagai shaffnya. Hal unik lainnya yang bisa kita temukan adalah bagian tembok yang dilapisi dengan keramik bercorak batu alam, sehingga dindingnya tampak seperti bebatuan yang ditata rapi. Lalu, pada bagian atas di sekeliling dindingnya terdapat berbagai lukisan kaligrafi dengan lafadz yang berbeda beda, dengan balutan warna cerah. Sehingga, jangan heran jika seluruh bagian atas dindingnya kita dapat melihat lukisan kaligrafi yang begitu indah, dengan gaya penulisan dan warna yang berbeda-bedar.